Peptida dan protein keduanya merupakan poliamida yang terdiri atas asam -amino yangα
dihubungkan melalui gugus karboksil dan -amino.
ikatan peptida
Dalam biokimia, ikatan amida disebut juga sebagai ikatan peptida. Resultan polimer yang telah
diklasifikasikan sebagai peptida atau protein tidaklah tergambar dengan jelas, umumnya
panjang rantai yang lebih dari 40 menggambarkan keberadaan protein, sedangkan istilah
polipeptida dapat digunakan untuk menyebut semua rantai panjang tersebut. Meskipun terlihat
serupa, peptida dan protein menampilkan berbagai macam fungsi biologis dan banyak fungsi
fisiologis. Sebagai contoh, mereka berfungsi sebagai struktur molekul dalam jaringan, enzim,
antibodi, sebagai neurotransmitter, dan bertindak sebagai hormon yang dapat mengontrol
banyak proses fisiologis, mulai dari sekresi asam lambung dan metabolisme karbohidrat
pertumbuhan itu sendiri. Aktivitas berbeda timbul akibat konsekuensi dari urutan asam amino
dalam peptida atau protein (struktur primer), struktur tiga dimensi dari suatu molekul yang
kemudian menjadi hasil dari urutan atau rangkaian ini (struktur sekunder dan struktur tersier),
dan sifat khusus dari individu rantai samping yang terdapat pada suatu molekul. Banyak
struktur yang telah mengalami modifikasi pada poliamida dasarnya, dan modifikasi tersebut
dapat menyebabkan perubahan aktivitas biologisnya secara signifikan. Dimana L- amino acid
memiliki fungsi sebagai pembentuk protein sedangkan D- amino acid memiliki fungsi sebagai
materi pembungkus bakteri dan beberapa antibiotik.
KEGUNAAN PEPTIDA DALAM BIDANG FARMASI
Cycloserine
D-Cycloserine diproduksi oleh kultur Streptomyces orchidaceus. Cycloserine larut dalam air
dan memiliki spektrum yang luas pada aktivitas antibakteri, terutama digunakan untuk aktivitas
terhadap Mycobacterium tuberculosis. Bekerja sebagai analog struktural D-alanin yang
menghambat penggabungan D-alanin ke dalam dinding sel bakteri. Karena dapat menghasilkan
neurotoksisitas pada pasien, Cycloserine diberikan sebagai cadangan apabila infeksi resisten
terhadap obat lini pertama.
Sumber : medicinal natural product, Paul M Dewick
Polymyxins
Polymyxins adalah kelompok antibiotik polipeptida siklik yang dihasilkan oleh spesies
Bacillus. Polymyxins A-E diisolasi dari Bacillus polymyxa, meskipun polimyxin B dan
polimyxin E terbukti merupakan campuran dari dua komponen (Colistin). Colistin diisolasi dari
Bacillus colistinus kemudian ditemukan identik dengan polimyxin E. Polymyxin B dan colistin
(polimiksin E) keduanya digunakan secara klinis. Peptida ini telah digunakan untuk pengobatan
infeksi dengan bakteri Gram negative seperti Pseudomonas aeruginosa, tetapi sekarang jarang
digunakan karena efek neurotoksik dan nefrotoksik.
Bacitracins
Bacitracin adalah campuran dari 9 peptida yang diproduksi oleh Bacillus subtilis, dengan
komponen utama bacitracin A. Bacitracin aktif terhadap berbagai bakteri Gram-positif. Hal ini
jarang digunakan secara sistemik karena beberapa komponen bacitracin yang nefrotoksik, tetapi
zinc bacitracin merupakan komponen formulasi salep untuk aplikasi topical. Sebagian besar
bacitracin yang diproduksi digunakan pada dosis subterapeutik sebagai aditif pakan ternak
(untuk meningkatkan efisiensi pakan), dan pada dosis terapi untuk mengatasi berbagai
gangguan pada unggas dan hewan
SIFAT PEPTIDA
Sifat peptida ditentukan oleh gugus –NH2, gugus –COOH, dan gugus R. Sifat asam dan basa
ditentukan oleh gugus –COOH dan –NH2, namun pada peptida rantai panjang, gugus –COOH
dan –NH2 tidak lagi berpengaruh. Suatu peptida juga mempunyai titik isoelektrik seperti pada
asam amino.
Ikatan peptida yang terjadi dari dua residu asam amino menunjukkan kemantapan resonansi
yang tinggi; ikatan C – N akan mempunyai sifat ikatan rangkap sebesar 40 %, dan ikatan
rangkap C = O mempunyai sifat ikatan tunggal sebesar 40 %. Akibatnya, gugus amino (- NH -)
dalam ikatan peptida tersebut tidak mengalami ionisasi, juga ikatan C – N dalam peptida tidak
mengalami rotasi dengan bebas. Hal ini merupakan faktor penting dalam menentukan struktur
tiga dimensi dan sifat rantai polipeptida dari protein.
Sifat asam basa peptida ditentukan oleh gugus ujungnya, NH2 dan – COOH serta gugus R yang
berionisasi. Pada peptida dengan rantai panjang, sifat asam basa dari gugus ujung berkurang
artinya karena jumlah gugus R yang banyak dan berionisasi.
STRUKTUR DAN TATANAMA PEPTIDA
Sifat asam basa peptida ditentukan oleh gugus ujungnya, NH2 dan – COOH serta gugus R yang
berionisasi. Pada peptida dengan rantai panjang, sifat asam basa dari gugus ujung berkurang
artinya karena jumlah gugus R yang banyak dan berionisasi.
STRUKTUR DAN TATANAMA PEPTIDA
1. Struktur
peptida terbentuk ketika gugus karboksil (carboxyl group ) dari suatu asam amino bereaksi
dengan gugus amin ( amine group ) dari asam amino lain. Reaksi ini menyebabkan pelepasan 1
molekul air (H2O) tiap pembentukan 1 ikatan peptida. Reaksi pembentukan peptida ini dikenal
dengan reaksi kondensasi. Karena reaksi pembentukan peptida membebaskan 1 molekul air,
maka jumlah asam amino penyusun polipeptida disebut residu.
2. Tata Nama
Peptida terbentuk ketika gugus karboksil (carboxyl group ) dari suatu asam amino bereaksi
dengan gugus amin ( amine group ) dari asam amino lain. Reaksi ini menyebabkan pelepasan 1
molekul air (H2O) tiap pembentukan 1 ikatan peptida. Reaksi pembentukan peptida ini dikenal
dengan reaksi kondensasi. Karena reaksi pembentukan peptida membebaskan 1 molekul air,
maka jumlah asam amino penyusun polipeptida disebut residu.
Gambar Struktur dasar peptida
( Sumber : Dewick, Paul M. “Medicinal Natural Product”. 2002)
Peptida merupakan hasil polimerisasi dari asam amino, sehingga struktur peptida terdiri dari
dua atau lebih asam amino. Peptida yang terdiri dari dua molekul asam amino disebut
dipeptida, bila terdiri dari 3, 4,5 dan 6 asam amino disebut tripeptida, tentra peptida, penta
peptida, dan heksa peptida. Untuk peptida yang terdiri dari banyak asam amino disebut
polipeptida.
2. Tata Nama
Nama peptida diberikan berdasarkan jenis asam amino yang membentuknya. Asam amino
yang gugus karboksilnya bereaksi dengan gugus –NH2 diberi akhiran -il pada namanya,sedangkan urutan penamaan didasarkan pada urutan asam amino, dimulai dari asam amino
yang masih mempunyai gugus –NH2 (disebut N terminal).
Dalam penulisan struktur peptida, gugus NH2 bebas selalu terletak di sebelah kiri yang disebut
dengan ujung N dan gugus COOH bebas selalu terletak di sebelah kanan yang disebut ujung
C . Asam amino yang mengandung ujung –N disebut asam amino terminal –N dan asam amino
yang mengandung ujung –C disebut asam amino terminal –C. Rantai peptida biasa disebut
“backbone” sedangkan gugus R biasa disebut gugus samping
DAFTAR PUSTAKA
Dewick, Paul M. 2002. Medicinal Natural Products: A Biosynthetic Approach 2nd edition.
England: John Wiley&Sons Ltd.
Girindra, A. 1986. Biokimia 1. Gramedia. Jakarta
PERTANYAAN
1. Bagaimana klasifikasi utama Peptida?
2.
